Quarter Life Crisis
Ketika menginjak umur 20an kekhawatiran mulai
bermunculan. Pernah gak sih waktu kalian mau tidur tiba-tiba kepikiran masa
depan? Kayak nanti abis lulus gue kerja dimana ya atau nanti jodoh gue siapa
ya? Hal-hal kecil tersebut akan terus bemunculan. Pertengahan 20an adalah masa
yang tanggung, kita sudah tidak muda lagi, bukan remaja lagi yang masih
menggunakan seragam sekolah. Seseorang sudah mulai memiliki tuntutan sosial
seperti bekerja, nikah, finansial, dan lain-lain. Kejadian-kejadian tersebut
sering disebut dengan Quarter Life Crisis.
Crisis sendiri diartikan sebagai masa diman
seseorang merasa insecure atau tidak aman, khawatir, cemas dengan
hal-hal yang sudah dimiliki, atau mulai banyak bertanya pada diri sendiri.
Crisis biasanya terjadi di ¼ kehidupan manusia. Erik Erikson (1950)
mengungkapkan pada usia 12-18 tahun, individu juga bisa mulai mempertanyakan
terkait “Siapakah aku? Aku bisa menjadi apa?”. Hal tersebut bisa terjadi pada
usia remaja yang baru lulus SMA atau akan memasuki masa perkuliahan. Crisis “ditunda”
dan baru terasa urgent ketika lulus kuliah atau memasuki masa mencari
pekerjaan. Sampai akhirnya tiba pada pertanyaan “Apakah menjadi diri saya saat
ini sudah cukup baik?”
Quarter Life Crisis merupakan bagian dari
perjalanan hidup manusia. Sesuatu yang membedakan QLC kita dengan orang lain
adalah timing dan permasalahan yang dihadapi. QLC bisa terjadi tidak
hanya satu kali bisa beberapa kali pada fase yang berbeda seiring bertambahnya
peran dan tenggung jawab. Kenapa pada umunya QLC dirasakan pada seseorang yang
berumur 20an? Karena ketika anak kecil mereka lebih banyak diberi oleh
lingkungan seperti nama saya “A” saya berumur sekian tahun, dan sebagainya. QLC
bukanlah masalah mental teta[i fase dalam perkembangan manusia baik secara
kognisi, emosi, motivasi, maupun relasi. Walaupun QLC normal dalam kehidupan
setiap manusia, kita tetap harus mencari jalan keluar. QLC bisa juga disebut
sebagai proses menyesuaikan diri manusia dengan lingkungnan.
#Gejala Quarter Life Crisis
1. Timbul perasaan kalah atau merasa diri sendiri belum hebat atasapa yang telah dilakukannya
2. Merasa takut terhadap apa yang telah ia lakukan, mempertanyakan apakah hal yang dilakukannya sudah benar atau belum.
3. Merasa kesepian karena teman-teman mulai hilang satu persatu. Orang-orang akan mulai sibuk dengan dunianya sendiri mencapai tujuannya.
4. Bingung terhadap langkah yang diambil
#Fase Dalam Quarter Life Crisis
1. Merasa terjebak dengan pilihan dalam hidup, seperti pekerjaan, relasi, ataupun keduanya.
2. Mulai merasa bahwa “saya harus keluar dari kondisi ini” dan merasa bahwa perubahan adalah hal yang memungkinkan untuk dilakukan
3. Keluar dari pekerjaan dan mengakhiri hubungan relasi, atau bahkan memutuskan komitmen terhadap hal yang membuat seseorang merasa terjebak. Disini individu biasanya mulai memutuskan “time out” untk mencari tahu apa yang diinginkan dan apa yang harus dilakukan
4. Mulai membangun kembali kehidupan secara perlahan
5. Mengembangkan komitmen baru sesuai dengan minat dan aspirasi
#Cara mengatasi QLC
1. Curhat dengan teman. Karena dengan bercerita dengan teman setidaknya kita mampu memperbaiki “benang kusut” yang ada di pikiran kita.
2. Saat merasa “terjebak” dengan masalah yang dihadapi namun tidak terlalu suka bercerita dengan teman, cobalah untuk menulis. Hanya karena kamu merasa tidak pandai untuk menulis bukan berarti kamu tidak bisa menulis. Tulislah apa yang kita khawatirkan dan apa yang kita inginkan dengan begitu “benang kusut” yang ada dipikiran kita mulai terurai satu persatu.
3. Berhati-hati dengan tindakan lebih banyak refleksi terhadap apa yang dipikirkan. Misalnya saat kita merasa tidak sesuai dengan pekerjaan yang kita jalani jangan langsung eksekusi untuk keluar dari pekerjaan. Cobalah untuk pikirkan kembali mungkin ini hanya karena faktor lain yang sesaat yang mampu mendorong ketidaknyamanan kita.
4. Lakukanlah research sebelum mengambil keputusan jangan impulsif. Langkah ini masih berkaitan dengan poin nomor tiga.
5. Berhenti membandingkan kehidupan kita dengan orang lain. Karena dengan membandingkan kehidupan dengan orang lain jawabannya tidak akan pernah ketemu. Garis start kehidupan setiap manusia berbeda begitu pula jalannya.
6. Mulailah mengatur ekspektasi dan tetap realistis dengan situasi dan kondisi yang dimiliki. Caranya dapat dimulai dengan mengenal diri kita sendiri, membuat tujuan atau cita-cita kedepan baik jangka pendek, menengah, atau panjang.
Dalam
menghadapi Quarter Life Crisis ini kita jangan takut, tetaplah menikmati
prosesnya. Karena dalam proses tersebut terdapat proses pendewasaan pada diri
manusia untuk lebih baik lagi dan matang dalam menghadapi kehidupan di dunia
ini. Selama kita mengalami hal-hal Quarter Life Crisis jangan lupa untuk tetap
mencari jalan keluar. Semangat people!
No comments:
Post a Comment