Peran Pemuda Pertanian dalam Membangun
Ekonomi Bangsa
di Era Revolusi Industri 4.0
Menurut T.S Asthon revolusi industri ini
terjadi pada tahun 1760-1830. Kata "Revolusi Industri" sendiri
diperkenalkan oleh Friedrich Engels dan Louis-Auguste
Blanqui di pertengahan abad ke-19. Hal in diartikan sebagai
perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan,
transportasi, dan teknologi serta memiliki dampak yang mendalam terhadap
kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia (Wikipedia). Revolusi industri untuk pertama
kalinya muncul di Inggris yang lambat laun mulai menyebar ke seluruh dunia.
Revolusi industri generasi
pertama ditandai oleh penggunaan mesin uap untuk menggantikan tenaga manusia
dan hewan. Kemudian, generasi kedua, melalui penerapan konsep produksi massal
dan mulai dimanfaatkannya tenaga listrik. Dan, generasi ketiga, ditandai dengan
penggunaan teknologi otomasi dalam kegiatan industri. Dunia industri saat ini tengah memasuki era baru yang
disebut Revolusi Industri 4.0. Tak
hanya ramai jadi perbincangan dunia, tapi gaung soal industri generasi keempat
ini juga terus dibahas di Indonesia. Apalagi sejak Presiden Joko Widodo
meresmikan peta jalan atau roadmap yang disebut Making Indonesia 4.0. Sejak
tahun 2011, kita telah memasuki Industri 4.0, yang ditandai meningkatnya
konektivitas, interaksi, dan batas antara manusia, mesin, dan sumber daya
lainnya yang semakin konvergen melalui teknologi informasi dan
komunikasi.
Pada revolusi industri
keempat, menjadi lompatan besar bagi sektor
industri, dimana teknologi informasi dan komunikasi dimanfaatkan
sepenuhnya.Tidak hanya dalam proses produksi, melainkan juga di seluruh rantai
nilai industri sehingga melahirkan model bisnis yang
baru dengan basis digital guna mencapai efisiensi yang tinggi
dan kualitas produk yang lebih baik. Sehingga pemanfaatan teknologi informasi menjadi
kunci penentu daya saing pada era ini. Indonesia sudah menapaki era industri
4.0, hal tersebut ditandai dengan berbagai insprastruktur yang serba digitalisasi
dan otomasi. Akan tetapi, tidak semua elemen masyarakat menyadari dan
mengetahui dampak yang terjadi dari perubahan tersebut. Perubahan tersebut
dapat kita lihat dari banyaknya toko yang mengalami penurunan keuntungan lalu
gulung tikar dan banyaknya pegawai yang kehilangan pekerjaan karena tugasnya
digantikan dengan perkembangan teknologi, seperti jual-beli online dan munculnya e-toll. Lalu apakah peran pemuda
pertanian dalam rangka membangun ekonomi bangsa?
Menurut hasil survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet
Indonesia (APJII) pada tahun 2017, tercatat jumlah pengguna internet di
Indonesia mencapai 143,26 juta jiwa. Sebanyak 49,52 persen pengguna berusia 19-34
tahun. Hal ini menunjukan, banyaknya usia produktif yang menggunakan teknologi.
Revolusi Industri 4.0
berciri
kreativitas, leadership (kepemimpinan) dan entrepreneurship (kewirausahaan) yang mendobrak "mindset" cara bekerja revolusi industri sebelumnya. Jika
berbicara tentang pemuda, maka tak lepas dari kata mahasiswa. Mahasiswa memiliki
peranan penting dalam mengembangkan dunia pertanian. Mahasiswa yang biasa dikenal sebagai agent of change, harus melakukan perubahan dengan mengikuti
perkembangan zaman agar dapat ikut berkontribusi dalam pembangunan ekonomi
pertanian ini. Pemuda pertanian dituntut untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah
pertanian dengan ilmu yang dimilikinya. Hal yang dapat dilakukan oleh pemuda
pertanian yaitu mengenalkan kepada petani dengan teknologi bertani yang modern
sesuai dengan perkembanga pada era 4.0 ini. Setiap generasi memilki
karakteristik tersendiri. Kini generasi internet harus dapat membuktikan bahwa
dirinya adalah generasi perombak tembok-tembok peradaban di masa lampau dan
menggantinya dengan hal positif yang menggunakan kecangihan teknologi. Industri
memang selalu memiliki kemajuan dalam perubahan, namun kita juga masih mempunyai
kemajuan di bidang pertanian, yang selalu tetap menjadi kebutuhan dasar bangsa
ini. Revolusi dalam bidang pertanian saat ini masih dalam tahap perkembangan. Beberapa
hal yang menjadi fokus dalam perkembangan terbaru ini adalah penggunaan
teknologi pertanian yang baru (hidroponik, vertical
farming, dan modifikasi genetika) serta pengaplikasian Teknologi Informasi
dan Komunikasi (TIK) dalam bidang pertanian. Konsep yang sedang dalam tahap pengembangan
ini yaitu smart farming atau precisioun agriculture. Dimana yaitu
penerapan teknologi informasi dalam bidang pertanian. Pengembangan pertanian
terhadap perekonomian suatu bangsa adalah berbanding lurus. Suatu bangsa dapat
dikatakan maju apabila kebutuhan primernya terpeneuhi.
Peran
pemuda pertanian, yang cinta tanah air Indonesia, harus mampu membumikan
pertanian Indonesia melalui internet. Hal tersebut dapat dilakukan melalui
pembentukan ide-ide perubahan ataupun informasi mengenai pertanian yang disebar
luaskan melalui internet khususnya media sosial. Karena dengan penyebaran
informasi melalui internet dapat mencakup secara luas dan cepat, sehingga dapat
merangkul masyarakat akan pentingnya pertanian dan teknologi yang kini saling
berkesinambungan dalam revolusi industri 4.0. Selain melalui media sosial, kaum
pemuda dapat membuat suatu inovasi yaitu dengan pembuatan informasi pertanian
yang dikemas dalam mobile. Pada
awalnya, memang akan terasa sulit untuk mengenalkan suatu hal baru kepada
petani tradisional, karena kebanyakan dari mereka lebih percaya dengan metode
yang sudah biasa mereka pakai sejak dahulu. Layanan informasi berbasis mobile diperlukan petani saat petani
membutuhkan informasi pertanian dengan cepat. Sehingga petani tidak memerlukan
waktu lama untuk mengetahui harga bibit dan ketersediaan pupuk, harga komoditas
di pasar, dan sarana untuk mengumpulkan kelompok tani. Potensi sistem pertanian
digital ini memiliki peluang besar untuk meningkatkan ketahanan pangan bangsa
kita. Dalam bidang pertanian, teknologi dapat dimanfaatkan selama proses on farm maupun off farm.
