Wednesday, August 22, 2018

Peran Pemuda Pertanian dalam Membangun Ekonomi Bangsa di Era Revolusi Industri 4.0



Peran Pemuda Pertanian dalam Membangun Ekonomi Bangsa
di Era Revolusi Industri 4.0

Menurut T.S Asthon revolusi industri ini terjadi pada tahun 1760-1830. Kata "Revolusi Industri" sendiri diperkenalkan oleh Friedrich Engels dan Louis-Auguste Blanqui di pertengahan abad ke-19. Hal in diartikan sebagai perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi serta memiliki dampak yang mendalam terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia (Wikipedia). Revolusi industri untuk pertama kalinya muncul di Inggris yang lambat laun mulai menyebar ke seluruh dunia.
Revolusi industri generasi pertama ditandai oleh penggunaan mesin uap untuk menggantikan tenaga manusia dan hewan. Kemudian, generasi kedua, melalui penerapan konsep produksi massal dan mulai dimanfaatkannya tenaga listrik. Dan, generasi ketiga, ditandai dengan penggunaan teknologi otomasi dalam kegiatan industri. Dunia industri saat ini tengah memasuki era baru yang disebut Revolusi Industri 4.0. Tak hanya ramai jadi perbincangan dunia, tapi gaung soal industri generasi keempat ini juga terus dibahas di Indonesia. Apalagi sejak Presiden Joko Widodo meresmikan peta jalan atau roadmap yang disebut Making Indonesia 4.0. Sejak tahun 2011, kita telah memasuki Industri 4.0, yang ditandai meningkatnya konektivitas, interaksi, dan batas antara manusia, mesin, dan sumber daya lainnya yang semakin konvergen melalui teknologi informasi dan komunikasi.
Pada revolusi industri keempat, menjadi lompatan besar bagi sektor industri, dimana teknologi informasi dan komunikasi dimanfaatkan sepenuhnya.Tidak hanya dalam proses produksi, melainkan juga di seluruh rantai nilai industri sehingga melahirkan model bisnis yang baru dengan basis digital guna mencapai efisiensi yang tinggi dan kualitas produk yang lebih baik. Sehingga pemanfaatan teknologi informasi menjadi kunci penentu daya saing pada era ini. Indonesia sudah menapaki era industri 4.0, hal tersebut ditandai dengan berbagai insprastruktur yang serba digitalisasi dan otomasi. Akan tetapi, tidak semua elemen masyarakat menyadari dan mengetahui dampak yang terjadi dari perubahan tersebut. Perubahan tersebut dapat kita lihat dari banyaknya toko yang mengalami penurunan keuntungan lalu gulung tikar dan banyaknya pegawai yang kehilangan pekerjaan karena tugasnya digantikan dengan perkembangan teknologi, seperti jual-beli online dan munculnya e-toll. Lalu apakah peran pemuda pertanian dalam rangka membangun ekonomi bangsa?
Menurut hasil survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2017, tercatat jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 143,26 juta jiwa. Sebanyak 49,52 persen pengguna berusia 19-34 tahun. Hal ini menunjukan, banyaknya usia produktif yang menggunakan teknologi. Revolusi Industri 4.0 berciri kreativitas, leadership (kepemimpinan) dan entrepreneurship (kewirausahaan) yang mendobrak "mindset" cara bekerja revolusi industri sebelumnya. Jika berbicara tentang pemuda, maka tak lepas dari kata mahasiswa. Mahasiswa memiliki peranan penting dalam mengembangkan dunia pertanian.  Mahasiswa yang biasa dikenal sebagai agent of change, harus melakukan perubahan dengan mengikuti perkembangan zaman agar dapat ikut berkontribusi dalam pembangunan ekonomi pertanian ini. Pemuda pertanian dituntut untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah pertanian dengan ilmu yang dimilikinya. Hal yang dapat dilakukan oleh pemuda pertanian yaitu mengenalkan kepada petani dengan teknologi bertani yang modern sesuai dengan perkembanga pada era 4.0 ini. Setiap generasi memilki karakteristik tersendiri. Kini generasi internet harus dapat membuktikan bahwa dirinya adalah generasi perombak tembok-tembok peradaban di masa lampau dan menggantinya dengan hal positif yang menggunakan kecangihan teknologi. Industri memang selalu memiliki kemajuan dalam perubahan, namun kita juga masih mempunyai kemajuan di bidang pertanian, yang selalu tetap menjadi kebutuhan dasar bangsa ini. Revolusi dalam bidang pertanian saat ini masih dalam tahap perkembangan. Beberapa hal yang menjadi fokus dalam perkembangan terbaru ini adalah penggunaan teknologi pertanian yang baru (hidroponik, vertical farming, dan modifikasi genetika) serta pengaplikasian Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam bidang pertanian. Konsep yang sedang dalam tahap pengembangan ini yaitu smart farming atau precisioun agriculture. Dimana yaitu penerapan teknologi informasi dalam bidang pertanian. Pengembangan pertanian terhadap perekonomian suatu bangsa adalah berbanding lurus. Suatu bangsa dapat dikatakan maju apabila kebutuhan primernya terpeneuhi.
Peran pemuda pertanian, yang cinta tanah air Indonesia, harus mampu membumikan pertanian Indonesia melalui internet. Hal tersebut dapat dilakukan melalui pembentukan ide-ide perubahan ataupun informasi mengenai pertanian yang disebar luaskan melalui internet khususnya media sosial. Karena dengan penyebaran informasi melalui internet dapat mencakup secara luas dan cepat, sehingga dapat merangkul masyarakat akan pentingnya pertanian dan teknologi yang kini saling berkesinambungan dalam revolusi industri 4.0. Selain melalui media sosial, kaum pemuda dapat membuat suatu inovasi yaitu dengan pembuatan informasi pertanian yang dikemas dalam mobile. Pada awalnya, memang akan terasa sulit untuk mengenalkan suatu hal baru kepada petani tradisional, karena kebanyakan dari mereka lebih percaya dengan metode yang sudah biasa mereka pakai sejak dahulu. Layanan informasi berbasis mobile diperlukan petani saat petani membutuhkan informasi pertanian dengan cepat. Sehingga petani tidak memerlukan waktu lama untuk mengetahui harga bibit dan ketersediaan pupuk, harga komoditas di pasar, dan sarana untuk mengumpulkan kelompok tani. Potensi sistem pertanian digital ini memiliki peluang besar untuk meningkatkan ketahanan pangan bangsa kita. Dalam bidang pertanian, teknologi dapat dimanfaatkan selama proses on farm maupun off farm.


No comments:

Post a Comment