Friday, August 3, 2018

Tugas Praktikum Ke-2 Sosiologi Umum PPKU IPB


MK Sosiologi Umum                                                               Rabu, 13 September 2017      
Praktikum ke-2                                                                                    RK TL 2.03

Realitas Sosial, Terbaliknya Semua Nilai
Oleh: Masyudi Martadipadang

Nama: Dita Puspitasari
NIM: H54170035

Asisten Praktikum:
Fachrina Noor Fauziah/I34150007
Sri Rezeki/I34150053


Realitas Sosial, Terbaliknya Semua Nilai
Oleh Masyudi Martadipadang

Friedrich Wilhelm Nietzsche seorang filsuf jerman pernah berkata dunia dirundung pembalikan semua nilai, ia mengambarkan bahwa segala yang baik tidak nampak lagi baik bisa saja menjadi keburukan dan yang buruk pun sudah menjadi suatu hal yang baik sehingga sesuatu ini baginya harus dapat pembaharuan.
Konflik di timur tengah yang masih menjadi kawasan yang penuh dengan ketidakpastian perdamaian, contohnya, peperangan Israel dan Palestina semakin hari semakin meruncing menjadi perhatian dunia. Tindakan balas membalas pun semakin memperbesar skala konflik, dan juga mengambil lebih banyak korban umat manusia.
Perang saudara di Suriah, yang meliputi ketegangan regional sekaligus global antara Rusia dan Amerika Serikat, juga masih jauh dari kata berakhir, belum lagi permasalahan di asia tenggara dan selatan, seperti rohingya yang acapkali di isukan sebagai peperangan perebutan wilayah keagamaan, sedang yang terjadi adanya grand design yang bermain untuk menguasai sumber daya alam di rohingya tersebut.
Tak hanya rohingya, negara-bangsa (red : Indonesia) yang telah merdeka selama 72 tahun ini juga banyak dirundung permasalahan yang kompleks dan multidimensional, persoalan korupsi yang tak henti habis-habisnya juga menjadi catatan kusam yang perlu untuk diselesaikan. Disisi lain, ada kerindungan mendalam untuk melihat bangsa ini menjadi suatu yang bangsa kuat dan terbebas dari segala macam patologi abad 21.
Negara bangsa ini juga nampak sedang kebingungan dalam melihat realitas global, munculnya hantu radikalisme yang berujung pada tindakan terorisme menjadikan bangsa ini sebagai bangsa paranoid, sedang dalam internalnya sendiri kompleks masalah tak kunjung henti-henti diselesaikan, bahkan salah satu ideologi komunis yang telah mati puluhan tahun pun masih dilihat sebagai ancaman nyata.
Memang diabad 21 ini, seluruh nilai nampak berubah, yang dulunya waras saat ini tidak dapat lagi mendapatkan kewarasannya, yang dulu sebagai bangsa yang beradab kini menuju biadab, yang berpenampilan bagaikan ulama pun juga belum menjamin bahwa ia seorang ulama, seorang yang memiliki prestasi dan kapabilitas dalam memimpin suatu negara telah disingkirkan oleh politisi rakus yang hanya memiliki kapital.
Tak jarang kita dapati seorang dengan panji kebesaran tuhan, ia semena-mena melakukan diskriminasi dan teror kepada orang yang berseberangan dengan dia. Fatalnya, hal yang sering dianggap buruk bagi kelestarian kesatuan bangsa akan adanya ancaman perpecahan pun kini telah di anggap sesuatu hal yang wajar, dan ironinya lagi sebagian besar masyarakat menerima mentah-mentah akan perihal tersebut. Lalu, mengapa hal ini semua dapat terjadi begitu cepatnya?
Diabad 21 tingkat kewarasan seseorang tidak lagi didasari cara ia memandang dunia dengan dasar kenyataan maupun fakta. Melainkan, dilihat dari ambisi dan angan-angan dunia semata, sehingga hal ini berujung pada hilangnya ia dari akar kenyataan.
Pijakan-pijakan kebaikan dan kemanusiaan tidak lagi menjadi suatu hal yang subtansi untuk di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari, ia hanya menjadi suatu ajaran yang kuno bagi masyarakat modern yang penuh dengan hal-hal semu semata. Maka dari itu kesimpulan dasarnya, kita menginginkan atau membutuhkan pijakan-pijakan baru dalam kehidupan.
Moralitas tidak lagi menjamim keberlangsungan hidup dengan damai, moralitas acapkali menjadi suatu hal dapat berubah secepatnya menjadi keburukan. Reza A.A Wattimena, Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya dalam tulisannya mengatakan bahwa Satu hal yang pasti adalah, bahwa moralitas adalah pertimbangan pikiran. Ia terjadi di dalam pikiran manusia. Ia tidak ada secara nyata dan empiris di dalam kenyataan sehari-hari. Moralitas bukanlah kenyataan alamiah.
Karena baginya, moralitas merupakan pertimbangan baik dan buruk untuk memutuskan serta melakukan sesuatu, sehingga acapkali moralitas terjebak didalam keputusan dan pertimbangan tersebut yang akan mengalami ketegangan batin didalam diri seseorang.
Tindakan buruk baginya akan menghasilkan tegangan dan penderitaan. Tindakan baik juga menghasilkan ketegangan dan penderitaan. Keduanya melahirkan tegangan dan ketakutan di dalam batin. Dari tegangan, penderitaan dan ketakutan batin tersebut, orang justru malah menjadi kejam pada orang lain, dan pada dirinya sendiri. Ini seperti lingkaran setan yang tak bisa diputuskan.
Maka tak heran bahwa ketika melihat yang dulunya mengajarkan kebaikan kini telah berubah menjadi seorang yang memperlihatkan keburukan, bahkan disejumlah peristiwa pembunuhan, pencurian dan lainnya, banyak didapatkan yang menjadi tersangka adalah seorang yang awalnya baik.
Menelisik tulisan diatas, maka kita memang membutuhkan sesuatu pijakan yang melampui moralitas tersebut, yang keluar dari lingkaran pertimbangan buruk dan baik. Yakni kejernian berfikir tengah arus modernisasi semu, karena dengan kejernian berfikir seseorang dapat menyingkronkan kedamaian dan keburukan tanpa harus didominasi salah satunya, sehingga ia tidak terjebak dalam pertimbangan buruk dan baik, ataupun dalam mengambil keputusannya ia terlepas dari ketegangan batin yang di sebut dengan moralitas tersebut.

Resume
Segala sesuatu dalam kehidupan memiliki nilai dan makna tersendiri. Namun nyatanya kini dunia sedang dirundung dengan pembalikan semua nilai. Kini segala sesuatu yang baik nampak tidak baik di pandangan kebanyakan orang dan begitu pula sebaliknya sesuatu yang buruk pun kini sudah menjadi suatu hal yang baik karena menjadikannya sebagai sesuatu yang lazim.
Konflik di timur tengah yang masih menjadi kawasan yang penuh dengan ketidakpastian perdamaian, contohnya peperangan Israel dan Palestina, Perang saudara di Suriah, selain itu ada pun di kawasan asia contohnya konflik Rohingya. perbuatan tersebut merupakan konflik besar dan juga mengambil banyak nyawa umat manusia. Dunia seolah menutup mata akan tindakan yang ketidakperimanusiaan terebut. Namun, seharusnya tak perlu jauh-jauh untuk melihat kenyataan yang ada, bangsa ini pun yang telah merdeka selama 72 tahun masih banyak dirundung dengan berbagai permasalahan. Seperti yang kerap kita lihat di berbagai media, kasus korupsi yang tak henti-hentinya masih menjadi catatan muram yang harus diatasi. Selain itu, radikalisme yang berujung pada tindakan terorisme menjadikan bangsa ini ketakutan dan selalu khawatir akan segala suatu hal sehingga membuat bangsa ini seolah paranoid.
Secara sekilas kita dapat melihat bahwa segala nilai aspek kehidupan nampak mulai berubah, yang dulunya waras saat ini tidak dapat lagi mendapatkan kewarasannya, yang dulu sebagai bangsa yang beradab kini menjadi kurang beradab. Kini tingkat kewarasan seseorang tidak lagi dilatari bagaimana cara ia memandang dunia dengan dasar kenyataan. Melainkan, kebanyakan orang melihat dari ambisi mereka dan angan-angan dunia semata. Ahikrnya akan berujung pada hilangnya ia dari akar kenyataan. Moralitas tidak lagi menjamin keberlangsungan hidup dengan damai, moralitas kerap menjadi suatu hal dapat berubah dengan cepat seiring berjalannya waktu. Reza A.A Wattimena, dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya dalam tulisannya mengatakan bahwa satu hal yang pasti adalah bahwa moralitas merupakan pertimbangan pikiran bukanlah kenyataan alamiah.
Moralitas merupakan pertimbangan baik dan buruk untuk memutuskan serta melakukan sesuatu, sehingga sering kali moralitas terjebak didalam keputusan dan pertimbangan tersebut yang akan mengalami ketegangan batin didalam diri seseorang.
Tindakan buruk maupun baik, keduanya akan melahirkan ketegangan dan ketakutan di dalam batin. Dari ketegangan, penderitaan dan ketakutan batin tersebut, orang malah menjadi kejam pada orang lain, bahkan pada dirinya sendiri.
Maka tak heran, ada sebagian orang yang dulunya mengajarkan kebaikan kini telah berubah menjadi seorang yang melakukan keburukan. Bahkan dalam beberapa peristiwa kejahatan seperti pembunuhan, banyak ditemukan yang menjadi tersangka adalah seorang yang mulanya berkelakuan baik dan biasanya adalah orang terdekat.
Maka dari itu, kita perlu kerjenihan dalam berpikir di tengah arus pembalikan nilai ini. Dengan berpikir jernih seseorang dapat membedakan kebaikan dan keburukan, sehingga dirinya tidak terjebak dalam pertimbangan buruk dan baik, ataupun dalam mengambil keputusannya.

No comments:

Post a Comment