Friday, August 3, 2018

Tugas Praktikum Ke-10 Sosiologi Umum PPKU IPB


MK Sosiologi Umum                                                   Rabu, 22 November 2017
Praktikum ke-10                                                          RK TL 2.03

“TERJADINYA PEMUSATAN KEKUASAAN”
Oleh: Sulardi

“PENGGULINGAN KEKUASAAN: ANTARA ORLA DAN ORBA”
Oleh: Panji Semirang

“SAMPANG DAN TRADISI PERLAWANAN”
Oleh: Anwar Hudijono

Nama: Dita Puspitasari
NIM: H54170035

Asisten Praktikum:
Fachrina Noor Fauziah/I34150007
Sri Rezeki/I34150053

Resume I

Terjadinya pemusatan kekuasaan berpangkal pada demokratisasi yang tidak berjalan. Hal ini dapat terlihat dari isi peraturan perundang-undangan yang cenderung  lebih mengarah pada kekuasaan presiden. Seperti munculnya TAP MPRS yang mengangkat Ir. Soekarno sebagai presiden seumur hidup.
Penyimpangan konstitusi pada masa ini berakhir dengan ditumpasnya G30S/PKI. Namun, demokrasi yang dipraktikkan masih terbatas pada level demokrasi formal saja. Ketika pertumbuhan ekonomi membaik, pemerintah tidak langsung mengalihkan kepada pembangunan ke arah pemerataan. Hal ini berakibat limbungnya ekonomi nasional karena krisis moneter.
 Dengan demikian perlu dipikirkan langkah keluar dari pemusatan kekuasaan yang terjadi, seperti dilakukannya reformasi politik. Namun, reformasi politik hanya dapat dilakukan dengan mencabut undang-undang yang dianggap menghambat demokratisasi. Untuk melakukan hal tersebut dibutuhkan anggota DPR yang berani dan cerdas.

Analisis I

1.      Saluran
-          Saluran ekonomi
Pemerintah menguasai ekonomi serta kehidupan masyarakat, sehingga dapat melaksanakan peraturannya. Terbukti dari kutipan “..ketika pertumbuhan ekonomi sudah ‘membaik’ pemerintah tidak segera mengalihkan kemudi pembangunan ekonomi dari pertumbuhan ke arah pemerataan”
-          Saluran politik
Pemerintah melalui badan legal memegang kekuasaan peraturan perundang-undangan untuk mengatur sistem bermasyarakat. Terbukti pada kalimat “Namun karena sudah ditentukan oleh undang-undang bahwa hanya ada dua partai politik dan satu Golongan Karya,..”
-          Saluran ideologi
Masyarakat diberikan ajaran yang bertujuan untuk menerangkan pembenaran pelaksanaan kekuasaan. Tercermin dari kalimat “Dengan demikian, maka muncul doktrin bahwa apa yang dikatakan pemerintah dalah sesuatu yang benar.”
Ya, kekuasaan pemerintah orde baru bersifat kumulatif. Dibuktikan dalam kalimat “Bahkan pada masa ini muncul TAP MPRS yang mengangkat Ir. Soekarno sebagai presiden seumur hidup”. Dimana artinya presiden memiliki kekuasaan pemerintah sepenuhnya.
2.      Ya, runtuhnya kekuasaan orde baru disertai anomie. Dimana terjadi penolakan atas undang-undang tertentu. Tercermin dari kalimat “Reformasi politik hanya dapat dilakukan dengan mencabut UU yang menghambat demokratisasi”
3.      Pada bacaan pertama model yang terjadi yaitu dialektik kelas sosial. Dimana sistem pemerintahan dijalankan secara otoriter yaitu terjadi pemusatan kekuasaan pada Presiden. Presiden diterjemahkan sebagai pemegang kedaulatan rakyat dan menjadi sah-sah saja bila ‘memveto’ undang-undang.
4.      Pola kekuasaan mengacu pada kasus Sampang
5.      Istilah perlawanan atau kontra orde baru atau penggulingan/menggulingkan kekuasaan lebih mengacu pada gerak kekuasaan. Dalam penyusunan maupun mencabut UU diperlukan pihak yang berkuasa daripada pihak yang lain. Namun dalam kenyataannya kinerja DPR belum kompeten. Tercermin dari “..merupakan contoh betapa semakin ompongnya DPR dalam melaksanakan fungsinya.”
6.      Pada teks I, belum terciptanya undang-undang secara demokratis, dimana segala sesuatu cenderung ditentukan oleh presiden. Pada teks II, demokrasi yang dipraktikkan masih terbatas pada level demokrasi formal, yaitu dilakukan oleh DPR namun masih banyak komponen rakyat yang secara material belum tertampung. Pada teks III, demokrasi belum berjalan lancar, dimana pemerintah bersama Golkar berpadu untuk ‘menggolkarkan’ masyarakat Sampang pada saat itu. Jadi dapat ditarik kesimpulan dari ketiga bacaan tersebut bahwa dalam pelaksanaan demokrasi hanya sebagian kecil saja prinsip demokrasi yang sudah berjalan namun dalam prosesnya masih terdapat hal-hal yang menyimpang. Hal yang menyimpang tersebut dapat terlihat dari kekuasaan yang dikendalikan secara dominan oleh pemerintah.

Resume II

Pada zaman Presiden Soekarno tatanan kehidupan berbangsa dan benegaranya disebut Orde Lama (Orla). Tatanan yang berusaha mengoreksi Orla disebut Orde Baru (Orba) dan kemudian Orba dikoreksi oleh Orde Baru yang lebih Baru (Orbaba). Pada masa pergantian Orla ini menimbulkan pertumbahan darah yang cukup dahsyat yang dilakukan oleh PKI. Sedangkan pergantian Orba dilakukan oleh orang bersenjata terhadap terhadap pendemo di Universitas Trisakti.
Awalnya mahasiswa yang berniat mengadakan aksi atas nama moral tetapi malah dipicu dengan mengorbankan jiwa pendemo. Banyaknya jatuh korban ini, memicu terjadinya percepatan aksi reformasi. Pada awal bermulanya demo ini, nilai rupiah dikeberi dari Rp.1000 menjadi Rp.1 yang kemudian disusul dengan naikknya harga bensin. Pada demo 1998, penculikan, penembakkan, kerusuhan, agaknya memang terjadinya secara terkoordinasi.
Pada awal Orba hubungan demo dan ABRI semakin lama semakin erat. Pada saat itu Presiden Soeharto mundur hanya melalui saut langkah besar. Presiden Soeharto diturunkan setelah mahasiswa mengultimamtum agar wakil-wakil rakyat segera mengadakan perkumpulan siding.

Analisis II
1.      Saluran
-          Saluran militer
Dimana terjadi pelaksanaan kekuasaan disertai paksaan. Terbukti dari “Pertumpahan darah pergantian Orba dilakukan oleh orang-orang bersenjata terhadap pendemo di Universitas Trisakti (12/5)
-          Saluran komunikasi
Penggunaan media komunikasi massa sebagai instrumen kekuasaan. Tercermin dar kalimat “Selain itu, terus terang media massa kali ini juga sangat membantu pendemo”
Dalam teks ini kekuasaan orde baru bersifat kumulatif, karena presiden memegang kendali dalam segala bentuk. Terlihat dari “Presiden yang sekaligus menjadi ketua Dewan Pembina Golkar menjadi raja diraja.”
2.      Ya, pada saat runtuhnya kekuasaan Orde Baru disertai anomie. Anomie sendiri menurut Durkheim yaitu suatu keadaan yang menggambarkan kekacauan sosial atau tanpa peraturan. Pada pergantian orde tersebut terjadi pertumpahan darah. Dimana mahasiswa Universitas Trisakti berupaya melakukan aksi demo atas nama moral, menuntut berbagai hal untuk diperbaiki, malah berujung dengan jatuhnya empat korban jiwa.
3.      Pada bacaan kedua, model yang digunakan yaitu dialektik kelas sosial. Dimana negara biasanya melayani kepentingan kelas sosial dominan yang biasanya berkuasa. Dimana presiden yang sekaligus menjadi ketua Dewan Pembina Golkar menjadi raja diraja.
4.      Pola kekuasaan mengacu pada kasus Sampang
5.      Istilah perlawanan atau kontra orde baru atau penggulingan/menggulingkan kekuasaan lebih mengacu pada gerak kekuasaan. Dimana terjadi aksi demo terhadap pemerintah terhadap beberapa kebijakan, namun berujung dengan jatuhnya korban jiwa. Terbukti dari kalimat “Namun, terus terang rakyat sudah bosan dengan penderitaan penekanan kekuasaan”
6.      Perbandingan ketiga bacaan dan kesimpulan.

Resume III

Kebanyakan orang mengenal daerah Sampang (Madura) identik dengan sosok masyarakat yang sifatnya kaku dan keras. Mereka terkenal dengan sikap yang berusaha melakukan perlawanan terhadap kezaliman penguasa. Hal tersebut dapat dilihat pada Tragedi Nipah, yaitu usaha mereka untuk mempertahankan hak mereka atas sawah yang akan dijadikan waduk.
Pada tahun 1997 untuk pertama kalinya pencoblosan ulang pemilihan umum terjadi di Indonesia. Peristiwa ini disebabkan karena mereka bergolak menentang hasil pemungutan suara pemilu yang diduga terdapat kecurangan. Peristiwa ini dicatat sebagai cikal bakal dari perjuangan demokrasi di Indonesia.
Hubungan PPP dengan masyarakat Sampang cukup kuat. Oleh karena itu ketika ada isu Calon Bupati Sampang yang diusung oleh PPP akan dianulir, mereka melakukan protes yang cukup besar. Sampai rezim Orde Baru runtuh, Sampang merupakan daerah yang sulit “ditaklukan”.

Analisis III
1.      Saluran
-          Saluran tradisional
Pelaksanaan kekuasaan yang terjadi disesuaikan dengan tradisi yang dikenal oleh masyarakat Sampang. Terbukti dari kalimat “Perlawanan merupakan ornamen kultural Sampang. Ketika rezim Orde Baru melakukan penggarapan partai-partai politik untuk memenangkan Golkar, Sampang menjadi basis perlawanan Partai Nadhatul Ulama (NU) pada pemilu 1971.”
-          Saluran militer
Dimana pemerintah menggunakan cara paksa dalam merebut tanah warga masayarakat Sampang. Terbukti dari kalimat “..tanpa rasa getar menyongsong terjangan peluru aparat militer, untuk mempertahankan martabat dan hak-hak mereka atas tanah yang akan dijadikan waduk.”
Dalam teks ini kekuasaan tidak bersifat kumulatif.
2.      Terjadi anomie pada teks ini yaitu terjadi pada Tragedi Nipah. Dimana ada beberapa masyarakat Sampang yang tewas atau cacat akibat usaha mereka untuk mempertahankan tanahnya yang akan dijadikan waduk oleh pemerintah.
3.      Model kekuasaan yang terjadi yaitu bersifat polimorfik. Dimana wewenang pengambilan keputusan atas masalah yang berbeda dipegang oleh orang-orang yang berbeda pula. Sehingga masing-masing orang memiliki peranan tersendiri.
4.      Pola kekuasaan di Indonesia di tingkat daerah mengacu pada kasus Sampang yaitu setiap masyarakat Sampang memiliki hak untuk menentukan siapa yang berhak menjadi pemipin mereka. Seperti pada pemilihan Fadhilah Budiono sebagai Bupati Sampang. Di tingkat negara pun sebenarnya sudah menggunakan sistem demokrasi namun tidak berjalan lancar dimana pemerintah militer bergabung dengan Golkar demi merealisasikan program agar masyarakat mendominasi Golkar.
5.      Istilah perlawanan atau kontra orde baru atau penggulingan/menggulingkan kekuasaan lebih mengacu pada gerak kekuasaan. Masyarakat Sampang melakukan usaha agar mereka tidak mendukung Golkar yang kala itu menguasai partai. Tesirat dari kalimat “...masyarakat menentang hasil pemilihan umum karena dinilai tidak jujur dan tidak adil, penuh kecurangan dan rekayasa untuk memenangkan partainya penguasa, Golkar”
6.      Perbandingan ketiga bacaan dan kesimpulan.



No comments:

Post a Comment