MK Sosiologi
Umum Rabu,
27 September 2017
Praktikum
ke-4 RK
TL 2.03
“Tak Cukup Deklarasi Damai”
Oleh: Kompas
“STRUKTUR
INTERAKSI KELOMPOK ELIT DALAM PEMBANGUNAN
Penelitian
di Tiga Desa Santri”
Oleh: Sunyoto Usman
“INTERAKSI SOSIAL
KOMUNITAS SAMIN DENGAN MASYARAKAT SEKITAR”
Oleh: Indah Puji Lestari
Nama: Dita Puspitasari
NIM: H54170035
Asisten Praktikum:
Fachrina Noor Fauziah/I34150007
Sri
Rezeki/I34150053
A.
Tak Cukup Deklarasi
Damai
RESUME
Gesekan antara pengemudi angkutan kota (angkot)
dengan ojek daring dalam perebutan penumpang kerap kali terjadi di berbagai
daerah. Tak terkecuali Kota Bogor yang terkenal dengan kota seribu angkot.
Keributan tersebut ternyata hanya kesalahpahaman saja. Penggunaan ojek daring
biasanya digunakan orang dalam keadaan terdesak dengan harga terkadang relatif
lebih mahal. Disamping itu, masih banyak masyarakat yang membutuhkan angkot
sebagai transportasi darat karena biaya yang relatif murah walaupun biasanya
lebih lama karena menunggu penumpang lain. Oleh karena itu, kedua belah pihak
kini bersepakat mengeluarkan deklarasi damai sehingga tidak terjadi keributan
lagi.
Bupati serta Walli Kota Bogor juga berupaya
untuk mengatasi permasalahan tersebut. Harus ada penegakan aturan antara
angkutan daring dengan angkutan konvensional. Rencananya ojek daring harus
berbadan hukum seperti yang telah di terapkan di Depok.
ANALISIS
1.
Kontak
sosial tersebut positif karena antara pihak ojek daring dengan angkot
bersepakat untuk saling menghormati dalam mencari nafkah di jalan-jalan Kota
Bogor serta primer karena interaksi tersebut terjadi secara langsung.
2.
Bentuk-bentuk
interaksi sosial:
a.
Kerja sama: Bupati dengan Wali Kota Bogor bersama-sama bertanggung jawab
menjaga wilayah Bogor dan mengawal kesepakatan antara pengemudi angkot dan ojek
daring agar keadaan stabil.
b.
Akomodasi: Konflik antara para pengemudi ojek
daring dengan angkot yang biasanya menimbulkan bentrok, kini dapat diselesaikan
dengan dikeluarkannya deklarasi damai sehingga kedua belah pihak sama-sama
saling menghormati dalam mencari nafkah.
c.
Asimilasi: Tidak terjadi asimilasi
d.
Persaingan: Terdapat persaingan antara
pengemudi ojek daring dengan angkot untuk mendapatkan penumpang.
e.
Kontravensi: Supir angkot menuduh kelompok
pengemudi ojek daring mengambil jatah penumpang angkot di jalur biasa angkot
menarik penumpang
f.
Konflik: Keributan serta bentrok antara
pengemudi angkot dengan ojek daring karena perebutan penumpang
3.
Matriks antara bentuk-bentuk interaksi sosial tersebut
dengan “pihak-pihak yang berinteraksi” dengan kategori antar-perorangan, antara
perorangan dan kelompok, dan antar-kelompok.
|
Bentuk Integrasi
|
Pihak-Pihak yang Berintegrasi
|
|
Kerja Sama
|
Antar-individu karena terjadi kerja sama antara Bupati dengan Wali
Kota Bogor untuk menjaga kestabilan.
|
|
Akomodasi
|
Antar-kelompok karena kelompok pengemudi ojek daring dan angkot bersepakat
untuk damai
|
|
Asimilasi
|
Tidak terjadi asimilasi
|
|
Persaingan
|
Antar-kelompok karena para pengemudi ojek daring dan angkot bersaing
dalam mendapatkan penumpang
|
|
Kontravensi
|
Antar-kelompok yaitu kelompo pengemudi ojek daring dengan supir
angkot yang merasa penumpangnya diambil oleh pengemudi ojek daring.
|
|
Konflik
|
Antar-kelompok karena para pengemudi ojek daring dan angkot saling
ribut dalam mendapatkan penumpang
|
4.
Derajat Integrasi dan Disintegrasi
Integrasi: Pengemudi ojek daring dengan supir angkot sangat
bergantung kepada masyarakat pengguna transportasi umum dalam mencari nafkah.
Disintegrasi: Terjadi keributan serta bentrok antara kelompok
pengemudi ojek daring dengan supir angkot
B.
Struktur Interaksi Kelompok Elit Dalam Pembangunan
Penelitian di Tiga Desa Santri
RESUME
Kebanyakan orang
mengartikan kaum elit sebagai suatu hal yang negatif bersifat hedonisme. Namun
dalam sosiologi elit berarti anggota suatu kelompok kecil di masyarakat yang
biasanya disegani, dihormati, kaya serta berkuasa. Untuk menerangkan struktur
kelompok elit dalam pembangunan, diamati tiga golongan elit yaitu elit pamong
desa, petani kaya, dan pemuka agama di tiga desa santri.
Setelah
didapatkan informasi, ternyata yang paling berpengaruh dalam proses pembangunan
ialah pamong desa. Pamong desa lebih banyak menjalin interaksi dibandingkan
dengan kelompok petani kaya dan pemuka agama. Betapa dominannya tokoh pemimpin
formal dalam pembangunan wilayah dan terkesampingnya pemuka agama dalam daerah
tersebut walaupun pada daerah santri. Kelompok elit pamong desa ternyata
memiliki angka tinggi, baik dalam koneksi maupun integrasi. Berarti, kelompok
elit pamong desa memiliki kesempatan yang lebih luas dan lebih leluasa dalam
mengembangkan kiprahnya pada pembangunan.
ANALISIS
1.
Kontak
sosial yang terjadi yaitu primer dan negatif. Primer karena kontak sosial yang
terjadi yaitu secara langsung. Negatif karena hubungan antar kelompok elit
terjadi kesenjangan dalam pengambilan keputusan, pihak pamong desa lebih
dominan dalam pengambilan keputusan.
2.
Bentuk-bentuk
interaksi sosial:
a.
Kerja sama: PPL bekerja sama
dengan para ketua Kelompok Tani Supra-Insus. Kerja sama antara masyarakat
dengan kelompok elit dalam mewujudkan pembangunan desa.
b.
Akomodasi: Dalam pengambilan keputusan
pembangunan, masyarakat tidak begitu dominan dalam menyerukan pendapatnya dibandingkan
kelompok elit. Sehingga, adanya paksaan oleh kelompok elit terhadap masyarakat
dalam mengambil keputusan.
c.
Asimilasi: Dalam setiap proyek pembangunan
hampir tidak terdapat pengelompokan berdasarkan persamaan kategori elit.
Sehingga, proses interaksi sosial yang berkesinambungan, antara pamong desa,
petani kaya dan pemuka agama saling berkoordinasi dan menyatu dalam proses
pengambilan keputusan dalam proyek pembangunan.
d.
Persaingan: Terdapat persaingan antar
kelompok elit dalam pengambilan keputusan, pihak pamong desa lebih menonjol
dibandingkan yang lain.
e.
Kontravensi: Tidak terdapat kontravensi
f.
Konflik: Konflik yang terjadi yaitu pemuka
agama yang berada di santri-santri tidak memiliki banyak kesempatan dalam
mengambil kebijakan pembangunan, sehingga mulai tersisihkan.
3.
Matriks antara bentuk-bentuk interaksi sosial
tersebut dengan “pihak-pihak yang berinteraksi” dengan kategori
antar-perorangan, antara perorangan dan kelompok, dan antar-kelompok.
|
Bentuk Integrasi
|
Pihak-Pihak yang Berintegrasi
|
|
Kerja Sama
|
Antar-kelompok yaitu antara kelompok PPL dengan parak ketua
Kelompok Tani Supra-Insus. Lalu kerja sama
antara kelompok elit dengan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan.
|
|
Akomodasi
|
Antar-kelompok yaitu antara kelompok elit dengan masyarakat yang
mengharuskan masyarakat mengikuti kebijakan yang ada.
|
|
Asimilasi
|
Antar-kelompok yaitu antara pemuka agama, pamong desa dengan petani
kaya yang saling berinteraksi sehingga menjadi satu.
|
|
Persaingan
|
Antar-kelompok yaitu terjadi persaingan antar kelompok elit dalam
pengambilan keputusan.
|
|
Kontravensi
|
Tidak terdapat kontravensi
|
|
Konflik
|
Antar-kelompok yaitu antara para pemuka agama dengan santri-santri,
peran pemuka agama dalam pengambilan keputusan mulai terkesampingkan.
|
g.
Derajat Integrasi dan Disintegrasi
Integrasi: Antar kelompok elit saling mempengaruhi kepada masyarakat
dalam pengambilan keputusan untuk pembangunan.
Disintegrasi: Terjadi kesenjangan antara kelompok elit. Yaitu
dominannya peran pamong desa dibandingkan yang lain
C.
Interaksi Sosial Komunitas Samin dengan Masyarakat Sekitar
RESUME
Komunitas Samin
merupakan bagian dari masyarakat desa Klopoduwur yang menganut dan
mempertahankan ajaran Samin Surosentiko. Dalam kehidupan beragama, komunitas
Samin mengjarkan sikap toleransi yaitu sikap menghargai, menghormati agama dan
kepercayaan orang lain. Karena mereka mengangap semua agama itu baik. Ajaran
Samin ini sebenarnya timbul sebagai reaksi dari zaman penjajahan Belanda.
Komunitas Samin memiliki ciri-ciri khusus yang menjadi identitas kelompok
mereka, sehingga berbeda dengan masyrakat sekitar.
Sebagian
kelompok Samin ada yang sudah berbaur dengan masyarakat sekitar namun jumlahnya
sedikit sekali. Kehidupan bertetangga sesama warga Samin maupun dengan
masyarakat sekitar berjalan harmonis. Sesekali kelompok Samin keluar dari
pemukima dan bergabung dengna masyarakat sekita untuk pergi ke desa bersama.
Mereka saling membantu dalam tanam dan hasil padi. Dalam kehidupan
bermasyarakat, setiap warganya hidup bersama dengan solidaritas yang tinggi,
seperti bergotong royong, saling membantu satu sama lain yang dilandasi oleh
rasa kewajiban moral.
ANALISIS
1.
Kontak
sosial yang terjadi pada teks tersebut yaitu kontak sosial positif dan
komunikasi primer. Kontak sosial positif karena adanya rasa saling menerima dan
saling menghormati antara masyarakat sekitar dengan Komunitas Samin. Kontak
sosial primer karena interaksi tersebut terjadi secara langsung tanpa
perantara.
2.
Bentuk-bentuk
interaksi sosial:
a.
Kerja sama: Jika musim tanam
atau panen, Komunitas Samin pergi ke sawah dengan masyarakat sekitar untuk
saling membantu persawahan mereka. Selain itu, antar komunitas Samin dengan
Pemerintah terjalin kerja sama demi tercapai tujuan bersama misalnya dalam
program KB dan sanitasi keluarga.
b.
Akomodasi: Bentuk akomodasi yang terdapat
pada bacaan yaitu coercion. Komunitas
Samin memiliki tata cara perkawinan sendiri yang berbeda dengan masyarakat umum
tetapi mereka dipaksa untuk menyelenggarakan perkawinan di KUA ataupun di
Masjid. Namun, setelah diberi pengertian oleh pemerintah, sebagian dari mereka
melaukan pernikahan dua kali yaitu menikah secara adat lalu menikah secara
negara.
c.
Asimilasi: Interaksi antara Komunitas Samin
dengan masyarakat sekitar, walaupun latar belakang serta adat istiadat yang
berbeda, tetapi mereka dapat menerima suatu kebersamaan sehingga tercipta
kehidupan yang berkesinambungan satu sama lain.
d.
Persaingan: Tidak terdapat persaingan dalam
teks tersebut.
e.
Kontravensi: Bentuk kontravensi terlihat jika
Komunitas Samin bertemu dengan orang yang belum dikenal sebelumnya maka mereka
selalu curiga dan tertutup terhadap orang yang bukan dari golongannya.
f.
Konflik: Diantara komunitas Samin pernah
terjadi percekcokan tentang pembagian warisan
3.
Matriks antara bentuk-bentuk interaksi sosial tersebut
dengan “pihak-pihak yang berinteraksi” dengan kategori antar-perorangan, antara
perorangan dan kelompok, dan antar-kelompok.
|
Bentuk Integrasi
|
Pihak-Pihak yang Berintegrasi
|
|
Kerja sama
|
Antar-kelompok yaitu antara Komunitas Samin dengan masyarakat
sekitar saling membantu dalam hasil panen maupun tanam
Antar-kelompok yaitu antara pemerintah dengan kelompok samin
|
|
Akomodasi
|
Antar-kelompok yaitu antara Kelompok Samin dengan masyarakat,
dimana Kelompok Samin dipaksa untuk menyelenggarakan perkawinan sesuai
negara.
|
|
Asimilasi
|
Antar-kelompok yaitu Kelompok Samin dengan masyarakat sekitar
terjadi pertukaran kebudayaan
|
|
Persaingan
|
Tidak terdapat persaingan
|
|
Kontravensi
|
Individu-kelompok yaitu antara kelompok samin dengan orang asing
yang belum dikenalnya, biasanya kelompok samin selalu curiga terhadap orang
tersebut.
|
|
Konflik
|
Antar-kelompok yaitu sesama kelompok samin terjadi percekcokan
mengenai pembagian warisan
|
4.
Derajat Integrasi dan Disintegrasi
Integrasi: Baik antar komunitas kaum Samin maupun dengan masyarakat
sekitar saling membantu dan bekerja sama. Sehingga derajat integrasi yang
terjadi lebih tinggi.
Disintegrasi: Komunitas Samin pada zaman penjajahan Belanda terkenal
dengan sifat selalu memberontak.
No comments:
Post a Comment