Friday, August 3, 2018

Tugas Praktikum Ke-4 Sosiologi Umum PPKU IPB


MK Sosiologi Umum                                                   Rabu, 27 September 2017
Praktikum ke-4                                                                        RK TL 2.03

“Tak Cukup Deklarasi Damai”
Oleh: Kompas

“STRUKTUR INTERAKSI KELOMPOK ELIT DALAM PEMBANGUNAN
Penelitian di Tiga Desa Santri”
Oleh: Sunyoto Usman

INTERAKSI SOSIAL KOMUNITAS SAMIN DENGAN MASYARAKAT SEKITAR”
Oleh: Indah Puji Lestari

Nama: Dita Puspitasari
NIM: H54170035

Asisten Praktikum:
Fachrina Noor Fauziah/I34150007
Sri Rezeki/I34150053


A.     Tak Cukup Deklarasi Damai

RESUME
Gesekan antara pengemudi angkutan kota (angkot) dengan ojek daring dalam perebutan penumpang kerap kali terjadi di berbagai daerah. Tak terkecuali Kota Bogor yang terkenal dengan kota seribu angkot. Keributan tersebut ternyata hanya kesalahpahaman saja. Penggunaan ojek daring biasanya digunakan orang dalam keadaan terdesak dengan harga terkadang relatif lebih mahal. Disamping itu, masih banyak masyarakat yang membutuhkan angkot sebagai transportasi darat karena biaya yang relatif murah walaupun biasanya lebih lama karena menunggu penumpang lain. Oleh karena itu, kedua belah pihak kini bersepakat mengeluarkan deklarasi damai sehingga tidak terjadi keributan lagi.
Bupati serta Walli Kota Bogor juga berupaya untuk mengatasi permasalahan tersebut. Harus ada penegakan aturan antara angkutan daring dengan angkutan konvensional. Rencananya ojek daring harus berbadan hukum seperti yang telah di terapkan di Depok.

ANALISIS
1.      Kontak sosial tersebut positif karena antara pihak ojek daring dengan angkot bersepakat untuk saling menghormati dalam mencari nafkah di jalan-jalan Kota Bogor serta primer karena interaksi tersebut terjadi secara langsung.
2.      Bentuk-bentuk interaksi sosial:
a.       Kerja sama: Bupati dengan Wali Kota Bogor bersama-sama bertanggung jawab menjaga wilayah Bogor dan mengawal kesepakatan antara pengemudi angkot dan ojek daring agar keadaan stabil.
b.      Akomodasi: Konflik antara para pengemudi ojek daring dengan angkot yang biasanya menimbulkan bentrok, kini dapat diselesaikan dengan dikeluarkannya deklarasi damai sehingga kedua belah pihak sama-sama saling menghormati dalam mencari nafkah.
c.       Asimilasi: Tidak terjadi asimilasi
d.      Persaingan: Terdapat persaingan antara pengemudi ojek daring dengan angkot untuk mendapatkan penumpang.
e.       Kontravensi: Supir angkot menuduh kelompok pengemudi ojek daring mengambil jatah penumpang angkot di jalur biasa angkot menarik penumpang
f.        Konflik: Keributan serta bentrok antara pengemudi angkot dengan ojek daring karena perebutan penumpang
3.      Matriks antara bentuk-bentuk interaksi sosial tersebut dengan “pihak-pihak yang berinteraksi” dengan kategori antar-perorangan, antara perorangan dan kelompok, dan antar-kelompok.
Bentuk Integrasi
Pihak-Pihak yang Berintegrasi
Kerja Sama
Antar-individu karena terjadi kerja sama antara Bupati dengan Wali Kota Bogor untuk menjaga kestabilan.
Akomodasi
Antar-kelompok karena kelompok pengemudi ojek daring dan angkot bersepakat untuk damai
Asimilasi
Tidak terjadi asimilasi
Persaingan
Antar-kelompok karena para pengemudi ojek daring dan angkot bersaing dalam mendapatkan penumpang
Kontravensi
Antar-kelompok yaitu kelompo pengemudi ojek daring dengan supir angkot yang merasa penumpangnya diambil oleh pengemudi ojek daring.
Konflik
Antar-kelompok karena para pengemudi ojek daring dan angkot saling ribut dalam mendapatkan penumpang
4.      Derajat Integrasi dan Disintegrasi
Integrasi: Pengemudi ojek daring dengan supir angkot sangat bergantung kepada masyarakat pengguna transportasi umum dalam mencari nafkah.
Disintegrasi: Terjadi keributan serta bentrok antara kelompok pengemudi ojek daring dengan supir angkot

B.     Struktur Interaksi Kelompok Elit Dalam Pembangunan Penelitian di Tiga Desa Santri

RESUME
Kebanyakan orang mengartikan kaum elit sebagai suatu hal yang negatif bersifat hedonisme. Namun dalam sosiologi elit berarti anggota suatu kelompok kecil di masyarakat yang biasanya disegani, dihormati, kaya serta berkuasa. Untuk menerangkan struktur kelompok elit dalam pembangunan, diamati tiga golongan elit yaitu elit pamong desa, petani kaya, dan pemuka agama di tiga desa santri.
Setelah didapatkan informasi, ternyata yang paling berpengaruh dalam proses pembangunan ialah pamong desa. Pamong desa lebih banyak menjalin interaksi dibandingkan dengan kelompok petani kaya dan pemuka agama. Betapa dominannya tokoh pemimpin formal dalam pembangunan wilayah dan terkesampingnya pemuka agama dalam daerah tersebut walaupun pada daerah santri. Kelompok elit pamong desa ternyata memiliki angka tinggi, baik dalam koneksi maupun integrasi. Berarti, kelompok elit pamong desa memiliki kesempatan yang lebih luas dan lebih leluasa dalam mengembangkan kiprahnya pada pembangunan.

ANALISIS

1.      Kontak sosial yang terjadi yaitu primer dan negatif. Primer karena kontak sosial yang terjadi yaitu secara langsung. Negatif karena hubungan antar kelompok elit terjadi kesenjangan dalam pengambilan keputusan, pihak pamong desa lebih dominan dalam pengambilan keputusan.
2.      Bentuk-bentuk interaksi sosial:
a.       Kerja sama: PPL bekerja sama dengan para ketua Kelompok Tani Supra-Insus. Kerja sama antara masyarakat dengan kelompok elit dalam mewujudkan pembangunan desa.
b.      Akomodasi: Dalam pengambilan keputusan pembangunan, masyarakat tidak begitu dominan dalam menyerukan pendapatnya dibandingkan kelompok elit. Sehingga, adanya paksaan oleh kelompok elit terhadap masyarakat dalam mengambil keputusan.
c.       Asimilasi: Dalam setiap proyek pembangunan hampir tidak terdapat pengelompokan berdasarkan persamaan kategori elit. Sehingga, proses interaksi sosial yang berkesinambungan, antara pamong desa, petani kaya dan pemuka agama saling berkoordinasi dan menyatu dalam proses pengambilan keputusan dalam proyek pembangunan.
d.      Persaingan: Terdapat persaingan antar kelompok elit dalam pengambilan keputusan, pihak pamong desa lebih menonjol dibandingkan yang lain.
e.       Kontravensi: Tidak terdapat kontravensi
f.        Konflik: Konflik yang terjadi yaitu pemuka agama yang berada di santri-santri tidak memiliki banyak kesempatan dalam mengambil kebijakan pembangunan, sehingga mulai tersisihkan.
3.      Matriks antara bentuk-bentuk interaksi sosial tersebut dengan “pihak-pihak yang berinteraksi” dengan kategori antar-perorangan, antara perorangan dan kelompok, dan antar-kelompok.
Bentuk Integrasi
Pihak-Pihak yang Berintegrasi
Kerja Sama
Antar-kelompok yaitu antara kelompok PPL dengan parak ketua Kelompok Tani Supra-Insus. Lalu kerja sama  antara kelompok elit dengan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan.
Akomodasi
Antar-kelompok yaitu antara kelompok elit dengan masyarakat yang mengharuskan masyarakat mengikuti kebijakan yang ada.
Asimilasi
Antar-kelompok yaitu antara pemuka agama, pamong desa dengan petani kaya yang saling berinteraksi sehingga menjadi satu.
Persaingan
Antar-kelompok yaitu terjadi persaingan antar kelompok elit dalam pengambilan keputusan.
Kontravensi
Tidak terdapat kontravensi
Konflik
Antar-kelompok yaitu antara para pemuka agama dengan santri-santri, peran pemuka agama dalam pengambilan keputusan mulai terkesampingkan.
g.       Derajat Integrasi dan Disintegrasi
Integrasi: Antar kelompok elit saling mempengaruhi kepada masyarakat dalam pengambilan keputusan untuk pembangunan.
Disintegrasi: Terjadi kesenjangan antara kelompok elit. Yaitu dominannya peran pamong desa dibandingkan yang lain

C.     Interaksi Sosial Komunitas Samin dengan Masyarakat Sekitar

RESUME
Komunitas Samin merupakan bagian dari masyarakat desa Klopoduwur yang menganut dan mempertahankan ajaran Samin Surosentiko. Dalam kehidupan beragama, komunitas Samin mengjarkan sikap toleransi yaitu sikap menghargai, menghormati agama dan kepercayaan orang lain. Karena mereka mengangap semua agama itu baik. Ajaran Samin ini sebenarnya timbul sebagai reaksi dari zaman penjajahan Belanda. Komunitas Samin memiliki ciri-ciri khusus yang menjadi identitas kelompok mereka, sehingga berbeda dengan masyrakat sekitar.
      Sebagian kelompok Samin ada yang sudah berbaur dengan masyarakat sekitar namun jumlahnya sedikit sekali. Kehidupan bertetangga sesama warga Samin maupun dengan masyarakat sekitar berjalan harmonis. Sesekali kelompok Samin keluar dari pemukima dan bergabung dengna masyarakat sekita untuk pergi ke desa bersama. Mereka saling membantu dalam tanam dan hasil padi. Dalam kehidupan bermasyarakat, setiap warganya hidup bersama dengan solidaritas yang tinggi, seperti bergotong royong, saling membantu satu sama lain yang dilandasi oleh rasa kewajiban moral.

ANALISIS
1.      Kontak sosial yang terjadi pada teks tersebut yaitu kontak sosial positif dan komunikasi primer. Kontak sosial positif karena adanya rasa saling menerima dan saling menghormati antara masyarakat sekitar dengan Komunitas Samin. Kontak sosial primer karena interaksi tersebut terjadi secara langsung tanpa perantara.
2.      Bentuk-bentuk interaksi sosial:
a.       Kerja sama: Jika musim tanam atau panen, Komunitas Samin pergi ke sawah dengan masyarakat sekitar untuk saling membantu persawahan mereka. Selain itu, antar komunitas Samin dengan Pemerintah terjalin kerja sama demi tercapai tujuan bersama misalnya dalam program KB dan sanitasi keluarga.
b.      Akomodasi: Bentuk akomodasi yang terdapat pada bacaan yaitu coercion. Komunitas Samin memiliki tata cara perkawinan sendiri yang berbeda dengan masyarakat umum tetapi mereka dipaksa untuk menyelenggarakan perkawinan di KUA ataupun di Masjid. Namun, setelah diberi pengertian oleh pemerintah, sebagian dari mereka melaukan pernikahan dua kali yaitu menikah secara adat lalu menikah secara negara.
c.       Asimilasi: Interaksi antara Komunitas Samin dengan masyarakat sekitar, walaupun latar belakang serta adat istiadat yang berbeda, tetapi mereka dapat menerima suatu kebersamaan sehingga tercipta kehidupan yang berkesinambungan satu sama lain.
d.      Persaingan: Tidak terdapat persaingan dalam teks tersebut.
e.       Kontravensi: Bentuk kontravensi terlihat jika Komunitas Samin bertemu dengan orang yang belum dikenal sebelumnya maka mereka selalu curiga dan tertutup terhadap orang yang bukan dari golongannya.
f.        Konflik: Diantara komunitas Samin pernah terjadi percekcokan tentang pembagian warisan
3.      Matriks antara bentuk-bentuk interaksi sosial tersebut dengan “pihak-pihak yang berinteraksi” dengan kategori antar-perorangan, antara perorangan dan kelompok, dan antar-kelompok.
Bentuk Integrasi
Pihak-Pihak yang Berintegrasi
Kerja sama
Antar-kelompok yaitu antara Komunitas Samin dengan masyarakat sekitar saling membantu dalam hasil panen maupun tanam
Antar-kelompok yaitu antara pemerintah dengan kelompok samin
Akomodasi
Antar-kelompok yaitu antara Kelompok Samin dengan masyarakat, dimana Kelompok Samin dipaksa untuk menyelenggarakan perkawinan sesuai negara.
Asimilasi
Antar-kelompok yaitu Kelompok Samin dengan masyarakat sekitar terjadi pertukaran kebudayaan
Persaingan
Tidak terdapat persaingan
Kontravensi
Individu-kelompok yaitu antara kelompok samin dengan orang asing yang belum dikenalnya, biasanya kelompok samin selalu curiga terhadap orang tersebut.
Konflik
Antar-kelompok yaitu sesama kelompok samin terjadi percekcokan mengenai pembagian warisan
4.      Derajat Integrasi dan Disintegrasi
Integrasi: Baik antar komunitas kaum Samin maupun dengan masyarakat sekitar saling membantu dan bekerja sama. Sehingga derajat integrasi yang terjadi lebih tinggi.
Disintegrasi: Komunitas Samin pada zaman penjajahan Belanda terkenal dengan sifat selalu memberontak.


No comments:

Post a Comment