Friday, August 3, 2018

Tugas Praktikum Ke-6 Sosiologi Umum PPKU IPB


MK Sosiologi Umum                                                   Rabu, 11 Oktober 2017
Praktikum ke-6                                                                        RK TL 2.03

OMPU MONANG NAPITUPULU INGIN SEDERHANAKAN BUDAYA BATAK
Oleh: Arbain Rambey

KEHIDUPAN SUKU DAYAK KENYAH DAN MODANG DEWASA INI
Inventarisasi Sebuah Proses Kemiskinan
Oleh: Franky Raden

Nama: Dita Puspitasari
NIM: H54170035

Asisten Praktikum:
Fachrina Noor Fauziah/I34150007
Sri Rezeki/I34150053



OMPU MONANG NAPITUPULU INGIN SEDERHANAKAN BUDAYA BATAK

I.                   Resume
Masyarakat Batak Toba dibombardir dengan banyak selembaran iklan. Isi dari selembaran iklan tersebut ialah ajakan kepada masyarakat Batak Toba agar bersama-sama mengusir perusahaan yang merusak lingkungan Bona Pasogit. Pemasang iklan tersebut dilakukan oleh Parbato, sebuah organisasi kesukuan. Batak Toba merupakan salah satu dari sub-etnis suku Batak saja, masih banyak suku lainnya. Konsepsi mengenai Batak Toba adalah konsepsi umum orang dalam mengetahui watak orang Batak.
Kehangatan kekerabatan dalam budaya Batak Toba sangat tinggi, bukan hanya dari soal nama, melainkan dalam pesta perkawinan pun hampir tiap orang merasa memiliki kekerabatan yang sangat dekat dengan mempelai. Namun menurut Ompu Monang, Ketua Parbato, ia ingin menyederhanakan budaya Batak yang dinilai banyak penghamburan dalam segi finansial maupun waktu. Misalnya  pemberian kain ulos dari tiap tamu,adanya acara pemberian nasihat dari ratusan orang kepada mempelai, dan pembangunan makam Batak Toba yang nilainya sampai ratusan juta hanya demi gengsi antar keluarga. Untuk mengatasi hal tersebut, akhirnya Ompu Monang “mengorbankan” dirinya dalam pesta perkawinan anaknya.  Ia akan menyelenggarakan pesta tersebut dengan cara efisien namun tidak keluar dari adat asli.
II.                Analisis
1.      Matriks unsur dan wujud kebudayaan
Unsur
Idiil
Aktivitas
Fisik
Bahasa
-Tata cara bahasa dan komunikasi
-Penggunaan nama kekerabatan
-Suka berbicara dengan kata-kata keras dan ceplas-ceplos.
-Mengganti nama Daniel Napitupulu dengan Ompu Monang Napitupulu.
Iklan-iklan di media massa

Nama “Ompu Monang Napitupulu”
Sistem Teknologi
Mempermudah produksi kain ulos
Membuat kain ulos dengan mesin
Mesin pembuat kain ulos dan kain ulos
Sitem Ekonomi
Komersialisme dan pemborosan


Memperjualbelikan kain ulos dan pernikahan yang dilakukan dengan megah dan menghabiskan banyak uang
Kain ulos
Organisasi Sosial
Menyelesaikan masalah dalam Batak Toba
Memasang iklan di media massa dan menyelenggarakan seminar
Organisasi Parbato
Sistem Pengetahuan
Rasa tanggung jawab pada pendidikan anak
Memberikan pendidikan kepada anak-anak
Lembaga pendidikan formal maupun informal dan buku
Kesenian
Upacara perkawinan suku Batak Toba
Membuat kain ulos dengan tenunan tangan dan bernyanyi
Kain ulos dan tenunan
Sistem Religi
Kepercayaan nenek moyang
Pembangunan makam-makam Batak Toba
Makam-makam Batak Toba

2.      Gerak kebudayaan yang terjadi yaitu integrasi. Diadakannya seminar dan usaha yang dilakukan oleh Ompu Monang untuk menyederhanakan tradisi suku Batak Toba yang dianggap banyak terjadi pemborosan uang dan waktu terutama dalam upacara pernikahan dan pembuatan makam. Sehingga ia berusaha membaurkan antara tradisi Batak Toba dengan kehidupan modern guna membuat sistem adat baru yang efisien namun tidak keluar dari nilai-nilai asli yang terkandung dalam adat Batak Toba. Hal tersebut dapat dilihat dalam pernikahan anak Ompu Monang, ia akan membatasi pemberian kain ulos dan nasihat dari banyak orang sehingga dapat memutus penyelewengan adat tersebut.
KEHIDUPAN SUKU DAYAK KENYAH DAN MODANG DEWASA INI

I.                   Resume
Pemukiman suku Dayak Kenyah dan Modang berada di wilayah Kecamatan Ancalong, Kabupaten Kutai dengan Kota Tenggarong. Konon, suku Kenyah dan suku Modang berasal dari daerah pegunungan Apokayan yan dimana daerah tersebut terisolir. Namun setelah datangnya Belanda menyebarkan agama Kristiani, mulailah timbul konflik antara mereka yang pindah agama baru atau yang tetap memeluk kepercayaan lama. Akhirnya mereka yang memeluk agama baru memilih untuk meninggalkan daerah asalnya. Dari sinilah mulai terjadi proses awal pemiskinan.
Sejak keluar dari daerah asal orang Dayak mulai sadar bahwa sektor ekonomi merupakan satu-satunya sektor yang dapat diandalkan. Namun karena transportasi yang sulit, maka hasil pertanian mereka bergantung pada perahu. Pendidikan informal sudah nyaris tergilas oleh sisem nilai kebudayaan kota. Dengan terciptanya kondisi demikian, suku Dayak yang bermukim di daerah baru ini tidak dapat dilepaskan begitu saja dari penanganan dan tanggung jawab pemerintah daerah.
II.                Analisis
1.      Matriks unsur dan wujud kebudayaan
Unsur
Idiil
Aktivitas
Fisik
Bahasa
Mendorong terjelmanya manusia-manusia ideal
Orang tua suku Dayak menceritakan nostalgia mereka dalam pantun dan cerita historis kepada anak-anak
Puisi dan cerita historis
Sistem Teknologi
Efisiensi bekerja dalam pertanian
Menggunakan alat dalam memanen padi
Mesin penggiling padi
Sitem Ekonomi
Pemenuhan kelangsungan hidup
Kegiatan menjual dan membeli barang-barang serta hasil panen penduduk
Warung dagang, barang kebutuhan pokok
Organisasi Sosial
Penguasaan hutan
Menutup hutan untuk daerah perladangan
Organisasi Penguasa HPH
Sistem Pengetahuan
Pendidikan formal
Menyekolahkan anaknya di kota
Sekolah-sekolah dan organisasi sosial
Kesenian
Terkikisnya inti dan sukma kesenian
Masyarakat mulai meninggalkan Lamin karena sudah mempunyai rumah masing-masing
Lamin
Sistem Religi
Misionari Belanda






Berpindahnya kepercayaan suku Dayak dari memuja roh nenek moyang menjadi  kepercayaan baru (Kristiani)

Tempat ibadah (gereja)






2.      Dalam bacaan ini terlihat jelas adanya diversitas kebudayaan yang terjadi pada Suku Dayak Kenyah dan Modang. Kemajemukan antara suku Dayak yang sebagian masyarakatnya tetap mempertahankan kebudayaan dan kepercayaannya dan tidak bersedia berpindah agama sehingga menimbulkan konflik diantara mereka. Mereka yang memeluk agama baru akhirnya meninggalkan daerah asal karena kesulitan memperoleh kebutuhan baru dan meninggalkan kebudaayaan mereka yaitu Lamin. Walaupun masih ada sebagian yang bertahan menjadikan Lamin sebagai tempat tinggal.

No comments:

Post a Comment