MK Sosiologi Umum Rabu,
11 Oktober 2017
Praktikum ke-6 RK
TL 2.03
OMPU MONANG NAPITUPULU INGIN
SEDERHANAKAN BUDAYA BATAK
Oleh: Arbain Rambey
KEHIDUPAN SUKU DAYAK KENYAH DAN MODANG
DEWASA INI
Inventarisasi Sebuah Proses
Kemiskinan
Oleh: Franky Raden
Nama: Dita Puspitasari
NIM: H54170035
Asisten Praktikum:
Fachrina Noor Fauziah/I34150007
Sri
Rezeki/I34150053
OMPU MONANG NAPITUPULU INGIN SEDERHANAKAN BUDAYA BATAK
I.
Resume
Masyarakat
Batak Toba dibombardir dengan banyak selembaran iklan. Isi dari selembaran
iklan tersebut ialah ajakan kepada masyarakat Batak Toba agar bersama-sama
mengusir perusahaan yang merusak lingkungan Bona Pasogit. Pemasang iklan
tersebut dilakukan oleh Parbato, sebuah organisasi kesukuan. Batak Toba
merupakan salah satu dari sub-etnis suku Batak saja, masih banyak suku lainnya.
Konsepsi mengenai Batak Toba adalah konsepsi umum orang dalam mengetahui watak
orang Batak.
Kehangatan
kekerabatan dalam budaya Batak Toba sangat tinggi, bukan hanya dari soal nama,
melainkan dalam pesta perkawinan pun hampir tiap orang merasa memiliki
kekerabatan yang sangat dekat dengan mempelai. Namun menurut Ompu Monang, Ketua
Parbato, ia ingin menyederhanakan budaya Batak yang dinilai banyak penghamburan
dalam segi finansial maupun waktu. Misalnya
pemberian kain ulos dari tiap tamu,adanya acara pemberian nasihat dari
ratusan orang kepada mempelai, dan pembangunan makam Batak Toba yang nilainya
sampai ratusan juta hanya demi gengsi antar keluarga. Untuk mengatasi hal
tersebut, akhirnya Ompu Monang “mengorbankan” dirinya dalam pesta perkawinan
anaknya. Ia akan menyelenggarakan pesta
tersebut dengan cara efisien namun tidak keluar dari adat asli.
II.
Analisis
1. Matriks unsur dan wujud
kebudayaan
|
Unsur
|
Idiil
|
Aktivitas
|
Fisik
|
|
Bahasa
|
-Tata
cara bahasa dan komunikasi
-Penggunaan
nama kekerabatan
|
-Suka
berbicara dengan kata-kata keras dan ceplas-ceplos.
-Mengganti
nama Daniel Napitupulu dengan Ompu Monang Napitupulu.
|
Iklan-iklan
di media massa
Nama
“Ompu Monang Napitupulu”
|
|
Sistem
Teknologi
|
Mempermudah
produksi kain ulos
|
Membuat
kain ulos dengan mesin
|
Mesin
pembuat kain ulos dan kain ulos
|
|
Sitem
Ekonomi
|
Komersialisme
dan pemborosan
|
Memperjualbelikan
kain ulos dan pernikahan yang dilakukan dengan megah dan menghabiskan banyak
uang
|
Kain
ulos
|
|
Organisasi
Sosial
|
Menyelesaikan
masalah dalam Batak Toba
|
Memasang
iklan di media massa dan menyelenggarakan seminar
|
Organisasi
Parbato
|
|
Sistem
Pengetahuan
|
Rasa
tanggung jawab pada pendidikan anak
|
Memberikan
pendidikan kepada anak-anak
|
Lembaga
pendidikan formal maupun informal dan buku
|
|
Kesenian
|
Upacara
perkawinan suku Batak Toba
|
Membuat
kain ulos dengan tenunan tangan dan bernyanyi
|
Kain
ulos dan tenunan
|
|
Sistem
Religi
|
Kepercayaan
nenek moyang
|
Pembangunan
makam-makam Batak Toba
|
Makam-makam
Batak Toba
|
2. Gerak kebudayaan yang
terjadi yaitu integrasi. Diadakannya seminar dan usaha yang dilakukan oleh Ompu
Monang untuk menyederhanakan tradisi suku Batak Toba yang dianggap banyak
terjadi pemborosan uang dan waktu terutama dalam upacara pernikahan dan
pembuatan makam. Sehingga ia berusaha membaurkan antara tradisi Batak Toba
dengan kehidupan modern guna membuat sistem adat baru yang efisien namun tidak
keluar dari nilai-nilai asli yang terkandung dalam adat Batak Toba. Hal
tersebut dapat dilihat dalam pernikahan anak Ompu Monang, ia akan membatasi
pemberian kain ulos dan nasihat dari banyak orang sehingga dapat memutus
penyelewengan adat tersebut.
KEHIDUPAN SUKU DAYAK KENYAH DAN MODANG DEWASA INI
I.
Resume
Pemukiman
suku Dayak Kenyah dan Modang berada di wilayah Kecamatan Ancalong, Kabupaten
Kutai dengan Kota Tenggarong. Konon, suku Kenyah dan suku Modang berasal dari
daerah pegunungan Apokayan yan dimana daerah tersebut terisolir. Namun setelah
datangnya Belanda menyebarkan agama Kristiani, mulailah timbul konflik antara mereka
yang pindah agama baru atau yang tetap memeluk kepercayaan lama. Akhirnya
mereka yang memeluk agama baru memilih untuk meninggalkan daerah asalnya. Dari
sinilah mulai terjadi proses awal pemiskinan.
Sejak
keluar dari daerah asal orang Dayak mulai sadar bahwa sektor ekonomi merupakan
satu-satunya sektor yang dapat diandalkan. Namun karena transportasi yang
sulit, maka hasil pertanian mereka bergantung pada perahu. Pendidikan informal
sudah nyaris tergilas oleh sisem nilai kebudayaan kota. Dengan terciptanya
kondisi demikian, suku Dayak yang bermukim di daerah baru ini tidak dapat
dilepaskan begitu saja dari penanganan dan tanggung jawab pemerintah daerah.
II.
Analisis
1. Matriks unsur dan wujud
kebudayaan
|
Unsur
|
Idiil
|
Aktivitas
|
Fisik
|
|
Bahasa
|
Mendorong
terjelmanya manusia-manusia ideal
|
Orang
tua suku Dayak menceritakan nostalgia mereka dalam pantun dan cerita historis
kepada anak-anak
|
Puisi
dan cerita historis
|
|
Sistem
Teknologi
|
Efisiensi
bekerja dalam pertanian
|
Menggunakan
alat dalam memanen padi
|
Mesin
penggiling padi
|
|
Sitem
Ekonomi
|
Pemenuhan
kelangsungan hidup
|
Kegiatan
menjual dan membeli barang-barang serta hasil panen penduduk
|
Warung
dagang, barang kebutuhan pokok
|
|
Organisasi
Sosial
|
Penguasaan
hutan
|
Menutup
hutan untuk daerah perladangan
|
Organisasi
Penguasa HPH
|
|
Sistem
Pengetahuan
|
Pendidikan
formal
|
Menyekolahkan
anaknya di kota
|
Sekolah-sekolah
dan organisasi sosial
|
|
Kesenian
|
Terkikisnya
inti dan sukma kesenian
|
Masyarakat
mulai meninggalkan Lamin karena sudah mempunyai rumah masing-masing
|
Lamin
|
|
Sistem
Religi
|
Misionari
Belanda
|
Berpindahnya
kepercayaan suku Dayak dari memuja roh nenek moyang menjadi kepercayaan baru (Kristiani)
|
Tempat
ibadah (gereja)
|
2.
Dalam bacaan
ini terlihat jelas adanya diversitas kebudayaan yang terjadi pada Suku Dayak
Kenyah dan Modang. Kemajemukan antara suku Dayak yang sebagian masyarakatnya
tetap mempertahankan kebudayaan dan kepercayaannya dan tidak bersedia berpindah
agama sehingga menimbulkan konflik diantara mereka. Mereka yang memeluk agama
baru akhirnya meninggalkan daerah asal karena kesulitan memperoleh kebutuhan
baru dan meninggalkan kebudaayaan mereka yaitu Lamin. Walaupun masih ada
sebagian yang bertahan menjadikan Lamin sebagai tempat tinggal.
No comments:
Post a Comment