MK Sosiologi
Umum Rabu,
8 November 2017
Praktikum
ke-8 RK TL 2.03
“LSM DAN NEGARA”
Oleh: Philip Eldridge
Nama: Dita Puspitasari
NIM: H54170035
Asisten Praktikum:
Fachrina Noor Fauziah/I34150007
Sri
Rezeki/I34150053
Resume
Secara
terminologi LSM berasal dari kata Non
Gonvernmental Organization (NGO), tetapi nama tersebut jika ditafsirkann
secara mudah sebagai ‘anti-pemerintah’, akhirnya digantikan dengan istilah
Lembaga Swadaya Masyarakat/Lembaga Pengembangan Swadaya Masyarakat (LSM/LPSM).
LSM pada khususnya lebih menyukai aksi daripada teori dalam pencapaian
tujuannya. Untuk usaha pengembangan masyarakat, LSM menyelenggarakan
program-program pembangunan yang berskala kecil di berbagai bidang seperti
perhatian yang diberikan pada aktivitas mendidik dan memobilisasi masyarakat.
LSM merupakan suatu wadah yang menjadi saluran absah bagi partisipasi sosial
dan politik masyarakat. Dimana LSM berupaya meningkatkan kapasitas bagi self management di kalangan kelompok
kelompok terbelakang.
Dengan kuatnya pengontrolan negara terhadapa bentuk
protes, LSM di Indonesia lebih memilih untuk bergerak dibawah payung
slogan-slogan pembangunan pemerintah. LSM dibentuk untuk memperjuangkan
kepentingan masyarakat dan menjadi suara pengeras masyarakat untuk menyuarakan
tuntutan perubahan kebijaksanaan kepada pemerintah. Beberapa kegiatan LSM
memberikan pengaruh kepada pemerintah dalam mengambil kebijakan dalam program
yang pemerintah jalankan. Tetapi, pemerintah pun harus tetap berusaha mencegah
bangkitnya keterlibatan masyarakat yang didasarkan pada kelompok-kelompok yang
secara murni mengandalkan kekuatan sendiri.
Terdapat tiga model pendekatan yang dilakukan LSM dalam
hal menjalin hubungan dengan pemerintah Indonesia, yakni “Kerjasama tingkat tinggi:
pembangunan akar rumput”. Model ini membatasi diri pada upaya untuk
mempengaruhi kebijakan melalui badan-badan pemerintah yang secara langsung
berkepentingan. Contohnya LSM Bina Swadaya dan Yayasan Indonesia Sejahtera.
Kedua yaitu, “Politik tingkat tinggi: mobilisasi akar rumput”. LSM pada model
ini biasanya memiliki hubungan baik dan berpengaruh terhadap jaringan militer
dan birokrasi serta memantau secara
Analisis
|
Aspek
Kajian
|
LSM
|
Pemerintah
|
|
Perbedaan
|
·
LSM lebih bersifat partisipatif dan debirokratif atau
tidak mementingkan birokratisasi serta lebih mementingkan aspirasi
masyarakat.
·
Dalam mewujudkan pencapaian LSM cenderung untuk melakukan
aksi atau suatu gerakan langsung
·
Ukuran LSM lebih kecil
·
Pendanaan belanja negara sebagian besar diperoleh dari
pajak dan investasi negara.
·
Menggunakan wakil rakyat sebagai kekuatannya dengan kata
lain mencegah adanya keterlibatan langsung dari masyarakat banyak
|
·
Lebih mementingkan birokratisasi dimana suatu komponen
yang lebih rendah berada dalam pengawasan serta pembinaan komponen yang lebih
tinggi kedudukannya.
·
Mewujudkan pencapaian cenderung lebih berteori dengan
mengeluarkan berbagai peraturan dan kebijakan
·
Dilihat dari ukuran cakupannya negara lebih besar
·
Pendanaan negara biasanya diperoleh dari dana asing dan
lembaga donor luar negeri.
·
Menggunakan elmen-elemen masyarakat sebagai kekuatannya.
|
|
Persamaan
|
·
Mempunyai peraturan tertulis
·
Memiliki aturan tersendiri yang mengatur dalam mencapai
tujuan
·
Memiliki spesialisasi dalam pembagian kerja
·
Memiliki tujuan yang sama yaitu mensejahterakan rakyat
dan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam pembangunan negara
|
|
a. Kesamaan atau perbedaan
tujuan dan cara-cara mencapainya antara birokrasi pemerintahan dengan LSM
b. Bukti bahwa organisasi pemerintahan menerapkan birokratisme!
Birokratisme menurut Soekanto
yaitu persoalan birokrasi yang disebabkan anggota birokrasi bertindak berbeda
dari ciri-ciri birokrasi. Ada anggapan kuat bahwa di luar Indonesia UU
organisasi kemasyarakatan yang dikeluarkan 1985 akan sangat memukul otonomi
LSM/LPSM. Dengan adanya UU keormasan ini merupakan sebagai kontrol pemerintah
terhadap LSM yang melakukan penyimpangan. Hal ini menyebabkan LSM mengalami
kesulitan dalam pendanaan yang disandarkan pada dana asing yang pada dasarnya
bertujuan memajukan kehidupan masyarakat, pemerintah justru membatasi ruang
gerak LSM ingin berkembang berdampingan dengan pemerintah.
Dalam cara menetralisir
kekuatan LSM pemerintah menciptakan struktur paralel yang bertujuan
memobilisasi kelompok-kelompok sasaran seperti pemuda, petani, dan wanita. Hal
ini mengindikasikan bahwa pemerintah pandang bulu dalam menjalankan tugasnya
dan dalam kenyataannya organisasi bentukan pemerintah tersebut hanya menjadi
wadah kosong yang tak didukung masyarakat. sehingga tidak sesuai dengan
ciri-ciri birokrasi yang diungkapkan menurut Weber.
c. Dapatkah jejaring antara
LPSM/LSM yang digambarkan dalam bacaan dapat digolongkan sebagai salah satu
bentuk alternatif birokrasi?
Ya, salah satu bentuk
alternatif birokrasi yang tergambarkan yaitu dalam bentuk Jejaring Kolaborasi.
Adanya jejaring antara organisasi serupa karena memperjuangkan kepentingan yang
sama. Penerepan jejaring ini dapat terdiri dari berbagai pihak yang berbeda,
dimana pemerintah menyadari bahwa LSM memiliki potensi untuk memobilisasi
sumber daya manusia secara lebih efektif, sehingga pemerintah menjalin
kerjasama dengan LSM. Dengan demikian mempermurah biaya yang dibutuhkan dalam
konteks pencapaian tujuang pembangunan nasional.
No comments:
Post a Comment